Kamis, 26 Desember 2013

TEKNIK PENGKODEAN

 PENGKODEAN

      Pengkodean adalah suatu teknik yang dilakukan untuk memberikan penegasan pada proses yang terlibat (data dan pensinyalan) transmisi data. Dalam proses tesebut perlu diperhatikan pula fasilitas-fasilitas komunikasi dan media yang tersedia.

Adapun tujuan pengkodean data adalah:
1.      Tidak ada urutan bit yang menyebabkan sinyal berada pada level 0 dalam waktu lama
2.      Tidak mengurangi laju data
3.       Kemampuan deteksi kesalahan

Pembagian Pengkodean

a.       BCD (Binary Coded Decimal)
Merupakan kode binary yang di gunakan untuk mewakili nilai digit decimal saja, yaitu nilai angka 0 s/d 9. BCD menggunakan kombinasi dari 4 digit. Kode BCD digunakan pada komputer generasi pertama
b.      SBCDIC (Standard Binary Coded Decimal Intercharge code)
Merupakan coding 6 bit untuk 64 karakter. posisi bit di SBCDIC dibagi menjadi 2 zone, yaitu 2 bit pertama (diberi nama bit A dan bit B) disebut dengan alpha bit position dan 4 bit berikutnya (diberi nama bit 8, bit 4, bit 2, dan bit 1) disebut dengan numeric bit position.
c.       EBCDIC (Extended Binary Code Decimal for Information Intercharge)
Merupakan kepanjangan dari Extended Binary Coded Decimal Interchange Code. Terdiri dari kombinasi 8-bit. Pada jenis ini high order bits atau 4-bit pertama disebut dengan zone bits dan low-order bits atau 4 bit kedua disebut dengan numeric bits.
merupakan coding 8 bit untuk 256 karakter. Tranmisi asinkron membutuhkan 11 bit,yaitu :
1 bit awal – 8 bit data
1 bit pariti – 1 bit akhir
d.      ASCII (American Standard Code For Information Intercharge)
Merupakan kepanjangan dari America Standart Code for Information Interchange, yang dikembangkan oleh American National Standarts Institute (ANSI) untuk tujuan membuat kode binary yang standar, kode ASCII ini menggunakan kombinasi 7 bit. SSCII7-bit banyak digunakan oleh komputer generasi sekarang.

            Coding standar yang sering digunakan oleh peralatan komunikasi data. Merupakan  sandi 8 bit dimana 7 bit digunakan untuk bit data ditambah bit ke-8 sebagai bit parity


Kode ASCII7-bit ini terdiri dari 2 bagian:

• Control characters, merupakan karakter yang digunakan untuk mengontrol pengiriman atau transmisi.
• Informations characters, merupakan karakter-karakter yang mewakili data.


Adapun cara-cara mengodekan data, yaitu:

            Pemberian kode dapat dilakukan dengan jenis pertanyaan, jawaban atau pertanyaan. Dalam, hal ini dapat dibedakan:

1.1. Jawaban Berupa Angka

            Jawaban responden dapat dalam bentuk angka. Pertanyaan tentang pendapatan perbulan, jawabannya sudah jelas dalam bentuk angka. Misalnya, Rp. 149.500,00. Begitu dalam mengukur berat tongkol jagung, maka jawaban sudah jelas dalam bentuk angka. Untuk jawaban dalam bentuk angka ini, maka untuk kode adalah angka jawaban itu sendiri

Misalnya:

Jawaban
Kode
Luas: 4,5 hektar
45

Jika jawaban dalam bentuk interval angka, maka angka-angka tersebut perlu doberi kode tersendiri, misalnya:

  Jawaban
Kode
  Luas antara 0,5 ha-1,0 ha
  Luas antara 1,1 ha-3,0 ha
  Luas diatas 3,0 ha
 15
 16
 17

1.2. Jawaban Pertanyaan Tertutup

            Jawaban pertanyaan tertutup adanya jawaban yang sudah disediakan lebih dahulu, dan responden hanya tinggal mengecek saja jawaban-jawaban tersebut sesuai dengan intruksi. Responden tidak mempunyai kebebasan untuk memilih jawaban diluar yang telah diberikan.
Misalnya:
Apakah bapak seorang petani?
- Ya
- Tidak
  Jawaban
 Kode
Ya
 Tidak
0
1

            Dapat dilihat diatas tidak ada pilihan bagi responden dalam memilih apakah jawaban sesukanya tetapi hanya ada dua pilihan apakah ya atau tidak dengan menggunakan kode 0 atau 1


1.3. Jawaban Pertanyaan Semi Terbuka

            Pada jawaban semi terbuka, selain dari jawaban yang ditentukan, masih diperkenankan lagi jawaban lain yang dianggap cocok oleh responden. Jawaban yang berada diluar dari yang telah disediakan, perlu diberi angka tersendiri untuk kode.

Misalnya:
Jenis pupuk yang anda gunakan?

a.       Urea
b.       ZA
c.       TSP
d.       Lain-lain



 Jawaban
 Kode
Urea
ZA
TSP
Pupuk kandang
KCL
Lain-lain
1
2
3
4
5
6

1.4. Jawaban Pertanyaan Terbuka

            Pada pertanyaan terbuka, jawaban yang diberikan sifatnya, sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh penjawab, tanpa ada suatu batasan tertentu. Untuk membuat kode terhadap jawaban pertanyaan terbuka, jawaban-jawaban tersebut harus dikategorikan atau dikelompokkan lebih dahulu, sehingga tiap kelompok-kelompok berisi jawaban yang telah dibuat, tetapi apabila ada jawaban yang tidak termasuk dalam kelompok-kelompok tersebut maka dapat dimasukkan dalam kelompok “lain-lain”. Hanya perlu diingat bahwa jawaban yang dimasukkan dalam kelompok lain-lain janganlah terlalu banyak. Juga perlu diingat bahwa jawaban pertanyaan dalam tiap kategori tidak boleh tumpang tindih.
Misalnya: 
Apakah alasan Bapak untuk mengikuti program bimas?

  Kelompok jawaban
 Kode
 Alasan Ekonomi
Alasan Keilmuan
Alasan kebutuhan
Alasan moral
Alasan Bimas
Lain-lain
1
2
3
4
5
6

1.5. Jawaban Kombinasi

Jawaban pertanyaan kombinasi hampir serupa dengan jawaban pertanyaan tertutup. Selain dari jawaban terpisah secara jelas, responden masih dapat dijawab kombinasi dari beberapa jwaban, misalnya:
  • Apakah bapak menggunakan pupuk
  • Menggunakan insektisida
  • Menanam dengan jarak tanah
Jawaban pertanyaan ini dapat terdiri dari beberapa kombinasi. Kombinasi tersebut dapat diberi kode tersendiri. Misalnya:
Jawaban
Kode
Menggunakn pupuk
Menggunkan Insektisida
Menanam dengan jarak tanah
Dan seterusnya
1
2
3
4




            Dalam sistem komunikasi, kita mengenal istilah transmisi data. Transmisi merupakan suatu proses yang melibatkan koneksi antara sistem source dan sistem tujuan. Transmisi data merupakan proses pemindahan data sebagai objek transmisi, dari sistem source ke sistem tujuan.
            Data sebagai objek transmisi memiliki karakteristik tersendiri. Data yang dipahami oleh manusia merupakan data yang berupa karakter atau teks. Sayangnya, data dengan karakteristik tersebut tidak dapat ditransmisikan dengan mudah melalui media transmisi yang berupa kabel maupun gelombang. Data tersebut harus diubah ke dalam karakteristik yang sesuai dengan proses transmisi, yakni biner dan berupa deretan bit.
            Untuk menampilkan data yang berupa deretan bit, maka diperlukan adanya sinyal digital. Data berupa deret bit diubah melalui proses encoding menjadi elemen sinyal yang merupakan pulsa-pulsa sinyal digital. Kebalikan dari proses ini adalah decoding, yakni mengubah sinyal digital menjadi data digital.
            Teknik pengkodean untuk mengubah suatu data digital ke dalam bentuk lain yang sesuai dengan media transmisi disebut Line Coding. Berikut beberapa jenis teknik pengkodean yang termasuk dalam Line Coding,
1. NRZ (Non Return To Zero) Signaling
NRZ merupakan salah satu teknik pengkodean diferensial Dalam NRZ, high-signal bernilai ‘1’ pada bit biner, dan low-signal bernilai ‘0’. NRZ dapat dibagi ke dalam beberapa bagian, antara lain
  • NRZ-L (Non Return Zero-Level)
NRZ-L diterapkan berdasarkan adanya tegangan negatif atau positif. Suatu tegangan negatif akan digunakan untuk mewakili suatu biner, dan tegangan positif digunakan untuk mewakili biner lainnya. Pada NZR-L, level sinyal selalu konstan.
  • NRZ-I (Non Return to Zero-Invert on ones)
Dalam NRZ-I, adanya transisi pada suatu periode bit, baik dari tinggi ke rendah maupun sebaliknya akan bernilai ‘1’. Sedangkan jika tidak ada transisi, maka bernilai ‘0’. NRZ-I memiliki kekebalan terhadap noise lebih tinggi dari jenis NRZ lain, selain itu NRZ-I tidak dipengaruhi oleh level sinyal.

  • NRZ-M (Non Return to Zero-Mark)
Dalam NRZ-M, level sinyal akan berubah setiap ada bit yang bernilai ‘1’.
  • NRZ-S (Non Return to Zero-Space)
NRZ-S merupakan kebalikan dari NRZ-M, dimana level sinyal akan berubah jika ada bit yang bernilai ‘0’.
Kelemahan teknik NRZ ini adalah sistem sinkronisasi yang terdapat di dalamnya buruk karena tidak memiliki sistem informasi timing dalam bentuk sinyal dan spectrum NRZ mengandung komponen DC.

2. MANCHESTER ENCODING
Teknik pengkodean Manchester merupakan salah satu teknik pengkodean biphase, dimana terdapat transisi pada setiap setengah dari periode bit.
Jika dalam setengah periode pertamanya pulsa merupakan high-signal kemudian setengah periode selanjutnya pulsa merupakan low-signal, maka akan menyatakan nilai ‘1’. Sebaliknya akan bernilai ‘0’.
Manchester encoding memiliki beberapa kelebihan, seperti sinkronisasi yang baik karena adanya transisi di setiap setengah periode bit dan receiver dapat mengatur transisi, hal ini disebut self-clocking codes, Manchester encoding juga tidak lagi mengandung komponen DC. Sayangnya, kelemahan dari teknik pengkodean ini adalah tidak adanya error-detector dari transisi yang terdapat di dalamnya.

3. 4B/5B CODE GROUP
4B/5B Code Group merupakan teknik pengkodean yang memetakan satu blok informasi yang jumlah bitnya didefinisikan dalam variabel m dan n.
Jumlah bit dalam variabel n selalu lebih besar daripada jumlah bit dalam variabel m, dengan nilai n adalah jumlah bit dalam variabel m ditambah 1.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar